Well, tau euthanasia? Itu sejenis obat yang bisa bikin mati tenang itu loh. Dan---ini original fic gue. Sebenarnya, ini side story-nya aja. Yang asli? Yang mau baca dah baru gue kasih -_-" gue malu soalnya..
Otanoshimini kudasai :)
---
Katakanlah, ketika matamu tertutup dan aku sudah pergi jauh. Aku masih mengharap agar bisa memperhatikanmu dari atas langit, dari balik bintang yang berpijar menyilaukan pandanganmu—bahkan sampai sekarangpun, aku masih mengharapkannya. Masih.
…sekalipun kau takkan mengetahuiku—atau bahkan sekedar memikirkanku.
.
.
Side Story : Another Phase Of Euthanasia
By Fitria-lyss di Fideline
.
Akiko menarik nafas dalam-dalam, kala telinganya mendengar berita itu—seperti suara iblis yang menggema, menggedor-gedor gendang telinganya yang hampa. Lalu, dalam hitungan sekon yang tak dapat diungkap dalam kata maupun suara, nafasnya tertahan.
….dan ia merasa dunianya menjadi luas. Terlalu luas. Sangat luas, untuk dirinya seorang diri.
.
.
Laki-laki itu menarik nafas, menatap sepasang mata di hadapan dengan kilatan tak terdefinisi. Gadis itu hanya bisa menatap balik, membalas mata dengan mata—berusaha membaca arti dua buah mata tepat di depan wajahnya.
Jarak bentang itu tidaklah besar. Hanya senti-senti yang masih bisa terhitung oleh sebelah tangan. Dahi-dahi mereka menempel, dan bisik-bisik—katakanlah sonata nafas yang menderu, mewarnai atmosfir.
Lampu masihlah remang-remang terlelap, punggung-punggung bertahan pada senderan kasur yang terasa begitu nyaman, ruangan berantakan dan dinding yang terkelupas menonton dengan bisu.
Di sana, Akiko menutup matanya—menyembunyikan rona merah yang terpantul dari kedua pipinya yang berisi. Dan nafas
Toirumi mewarnainya, seolah memberi uap panas yang membuatnya menguap seperti butiran-butiran embun pada pagi hari. Dari sanalah segalanya bermula, dan hentak nafas lelaki itu mengurai segalanya.
“Anata no koto ga suki da yo.”
“Watashi mo.”
Pada akhirnya, setelah kata-kata yang mengubur ketegangan, kedua tangan Toirumi bertaut hangat menahan kedua tangan milik gadis di hadapannya. Ia menatap mata dengan sinar-sinar yang hanya memantulkan dirinya—sebelum ia menutup matanya dan memulai lebih jauh lagi. Bulu matanya membelai wajah Akiko—membuatnya rona merah dan detak jantung saling berirama dan mengisi.
Dan lalu, jarak terputus. Kontak mata tak lagi bersatu, dan Akiko bisa merasakan nafas Toirumi menguar di sekitar wajah dan matanya. Pagutan tak terputus itu begitu lembut, begitu hangat, dan ia bisa merasakan detak jantung dan irama nafas mereka menyatu dalam keheningan panjang tiada akhir.
Kedua tangan lelaki itu mencapai leher Akiko, lalu menuju—membelai rambut panjang itu dengan perlahan. Dan lalu kesepuluh jemari Toirumi mencapai kedua pipi Akiko (yang terasa begitu empuk dan menggoda). Ia menjauhkan wajahnya sedikit—melepaskan ciuman hangat mereka yang sebentar (dengan setengah tidak rela—tentu saja). Dahi mereka masih menempel satu sama lain. Keduanya terasa panas. Lalu kedua pasang mata itu saling adu tatap dalam atmosfir yang entah kenapa kembali mendadak tegang.
Kemudian, sepersekian detik lamanya—Akiko bisa merasakan Toirumi menjatuhkan kepalanya di bahunya. Mendorong tubuhnya hingga menyentuh lantai. Namun, suara nafas tertahan Toirumi kali itu yang terdengar—hanya itu.
“…nani suru n da yo?” klausa dalam Bahasa Jepang itu terucap dari bibir Akiko. Kebiasaan berbicara dalam bahasa asing yang satu ini sudah menjadi bumbu-bumbu percakapan mereka sehari-hari. Tujuannya hanyalah agar orang-orang tidak memahami apa yang ingin mereka bicarakan secara pribadi entah di tempat ramai sekalipun. Sungguh pilihan yang cerdas—tentu saja ini tidak akan mereka lakukan apabila ada di depan sensei yang mengajari mereka bahasa Jepang.
“Nandemo nai… demo—aishitekurete arigatou.”
Toirumi tidak mengangkat wajahnya yang kini berada dalam dada Akiko. Kedua tangannya menahan tangan yang lain agar tak bergerak memberontak lebih jauh. Harus gadis itu akui, lelaki itu punya tenaga luar biasa.
Dengan posisi seperti itu—Akiko selalu bersyukur untuk pintu yang senantiasa terkunci.
“Watashi mo, Toirumi…”
Lalu Toirumi mengangkat wajahnya dan membiarkan Akiko tertawa geli melihat pipi putihnya yang merah seperti kepiting asap.
Pukul setengah sembilan malam saat itu adalah waktu lain yang mereka pergunakan untuk sejenak menghentikan kegiatan konyol mereka (katakanlah—adu teriak, lemparan buku, dan sebagainya) yang begitu asing untuk sepasang bunga mekar.
(—sejak kapan kalian lupa kalau mereka sepasang kekasih?)
“…u-uh… hazukashii.”
“Kau kan memang memalukan,” Akiko berujar tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“…biar saja. Biarpun begitu kau tetap menyukainya, ‘kan?”
“Tentu saja.”
Toirumi tertawa canggung sementara Akiko mengalihkan pandangannya dari hamparan cokelat kristal milik pria di hadapannya.
Akiko hanya menyambung, “Lepaskan tanganku, anata.”
Seringai lelaki itu menjawabnya—dengan mengecap bibirnya sendiri, Toirumi berkata, “Memangnya aku mau—lagipula aku belum benar-benar main lho.”
“ECCHI!”
Toirumi menghentikan omelan itu dengan sebuah kecupan ringan di bibir. Sehingga semua kata-kata yang keluar tak mampu terucapkan maupun tertangkap oleh telinga. Lalu tatapan serius menguar dari kedua indera pengelihatan lelaki itu.
“Akiko… aishimasu ka?”
Dan Akiko tersenyum, “…tentu saja.”
Lalu selanjutnya, dibalik kaca jendela, di mana rembulan yang tersenyum malu—tertutup awan malam yang biru gelap menyala, ia menatap kedua makhluk Tuhan yang paling berakal itu saling bertukar tatap dan memutuskan kontak mata—lalu menyambungkan koneksi-koneksi yang terputus itu dengan suara hati. Lewat pagutan-pagutan hangat dan tangan yang saling mengisi.
…seolah tak mau berhenti. Seolah tak mau waktu berjalan menghampiri.
.
.
Dan dalam pemakaman hari itu. Dalam terik, dalam delapan Mei yang begitu kejam merampas Toirumi, dan dalam balutan warna hitam yang senada dengan puluhan orang lainnya; Akiko bisa menyaksikan tubuh itu—dalam balutan putih yang suci, dalam peti hitam—terkubur perlahan hingga tak terlihat lagi.
Mendadak, rasa manis di bibirnya terkecap lagi. Ia ingin mengecup bibir itu sekali lagi, merasakan lidahnya bermain hingga liur-liur menetes melalui sudut bibir menuju dagunya. Ia rindu semuanya, kata-kata dalam bahasa Jepang, ucapan cinta yang tak kunjung pupus, teriakan yang membuat telinganya merah, dan tidak lupa segala yang lelaki itu tuangkan dalam dadanya yang kini begitu hampa.
(kecupan hari itu adalah yang terakhir untuk mereka—untuk Toirumi, dan terutama untuk Akiko.)
Akiko tidak pernah tahu mengapa kesedihan (yang terasa asin di bibir itu) tidak menyapanya sejak mendengar bermacam berita yang membuat lidahnya kelu—kaku. Ia tidak pernah mengerti mengapa hari ini begitu kejam—delapan Mei yang cerah untuk kematian lelaki yang begitu dicintainya—delapan Mei dimana enambelas tahun yang lalu lelaki itu hadir di dunia ini dan ditakdirkan untuknya. Ia bersumpah, ini adalah hari terburuk dalam hidupnya yang kini terasa begitu sempit—sementara dunia begitu luasluasluas.
(tentu saja, tidak akan ada lagi kata-kata yang menyahuti suaranya, tidak akan ada lagi Toirumi di sisinya—di sampingnya, menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Selamanya.)
Dan setelah semua orang, Akiko memaksakan lengkungan terbentuk di wajahnya—ia tahu bahwa Toirumi tidak pernah suka wajahnya yang bulat itu cemberut atau terlihat tak menyenangkan—lalu, sebuket lili putih tanda duka cita, sebuket mawar untuk cinta, enam belas mawar putih untuk delapan mei, dan setangkai edelweiss untuk memori yang terkenang selamanya—tidak lupa sebuah kotak berpita merah, terbungkus rapi, Akiko letakkan di atas marmer keabuan yang menjulang itu.
Dengan sebuah nama yang terapal berulangkali dari bibirnya yang sekian kali bersatu dengan bibir pria itu—Akiko hanya mengucap, dalam bahasa yang mereka pakai sebagai khas mereka sampai kapanpun untuk menutupi segalanya.
“Otanjoubi omedettou, ne, watashi no koibito, watashi no hatsukoi. Kimi o aishiteru, ne.”
Ia hanya berharap cinta—kata-kata busuk yang telah mewarnai hari-hari mereka—akan mekar menjadi harapan yang bersemi; suatu saat ketika mereka bertemu lagi.
“…rest in peace, Hatsukoi. Anata wa, watashi no mikata dakara,” sepi dan sunyi menyapa, “…ne?”
Ya, hanya itu saja.
—ends—